Berbagi Perjalanan Hidup via PATH

Indonesia.

Negeri yang bangsanya sangat adaptif dengan hal-hal baru, yang saat ini sangat menggandrungi apapun yang berbau hi-tech atau digital. Termasuk update gadget atau smartphone versi baru, dengan berbagai sistem operasional – iOS, Android, Windows, atau Symbian (kalau masih ada) 🙂 Demikian juga dengan platform-platform yang menjadi media komunikasi sosial, atau lazim kita sebut sebagai social media. Orang-orang Indonesia dengan adanya akses internet yang semakin mudah dan murah, dan juga perangkat smartphone-tablet PC yang semakin terjangkau harganya, pasti paling tidak punya-mengelola paling tidak 1 media sosial. Facebook, twitter, pinterest, google plus (Google+), blog (wordpress-tumblr-blogspot-dsb),  Instagram, Line, Whatsapp, dan yang sedang hits saat ini, Path.

Path? Yes, Path. Dengan P huruf besar.

Path pics_1
Tampilan Path di smartphone

Saya pribadi kenal Path sejak pakai gadget Android kurang lebih 2 tahun yang lalu, saat itu belum semarak sekarang, sebanyak sekarang penggunanya. Saat itu, saya belum begitu tertarik, karena untuk urusan filter foto yang langsung bisa terhubung ke jejaring sosial sudah ada instagram, untuk posting sesuatu sudah terbiasa dengan facebook ataupun twitter. Dan antar jejaring sosial yang saya pelihara, saya juga terbiasa cross post agar audience dari posting saya lebih banyak. Misalnya, tweet tertentu, atau like-comment-pin-repin di Pinterest saya cross posting-kan ke facebook. Dimana cross post feature ini juga ada di Path. Tag lokasi dan/atau user lain, saya biasan pakai facebook, atau orang lain biasa menggunakan jejaring sosial foursquare. Di Path juga ada dan bisa dilakukan. Apa lagi? Kenapa saya harus main dan hadir juga di Path?

Nah, sebelum saya jawab, yuk, kita kenal lebih dekat dulu dengan Path. Apa itu Path dan siapa orang jenius yang ada di balik Path.

Apa itu Path?

Path adalah sebuah aplikasi jejaring sosial dalam smartphone yang memungkinkan penggunanya untuk berbagi gambar dan juga pesan. Penggunaan dari Path ditargetkan untuk menjadi tempat tersendiri untuk pengguna berbagi dengan keluarga dan teman-teman terdekat. Dave Morin, salah satu dari pendiri Path dan CEO dari perusahaan tersebut berkata: “Yang menjadi visi utama kami adalah untuk membuat sebuah jejaring dengan kualitas yang tinggi dan menjadikan pengguna nyaman untuk berkontribusi setiap waktu.” 

Path pics_3
Dave Morin, co founder Path
Path Shawn Fanning
Shawn Fanning, co founder

Perusahaan ini berawal dengan aplikasi pada iPhone dan juga website lalu merilis versi Android kemudian. Perusahaan ini berkompetisi dengan jejaring sosial lainnya seperti Instagram. Berpusat di San Fransisco, California, perusahaan ini didirikan oleh Shawn Fanning dan mantan Eksekutif dari Facebook, Dave Morrin. Path didirikan dengan tujuan membuat sebuah jurnal yang interaktif bagi penggunanya.

Penggunaan Path berbeda dari jejaring sosial lainnya di mana hanya pengguna yang telah disetujui yang dapat mengakses halaman Path seseorang. Status privasi dari aplikasi ini menjadikan Path lebih eksklusif dari berbagai jejaring sosial yang ada. Path dapat digunakan di iPhone, iPad, iPod Touch, dan Android versi apapun. Aplikasi ini tersebar melalui Apple Application Store dan berbagai situs aplikasi lainnya.

Bagaimana sejarah berdirinya Path?

Penggalangan dana untuk mendirikian Path diawali oleh 3 pendiri Path yaitu Dave Morin, Shawn Fanning, dan Dustin Mierau. Penggalangan dana ini berhasil mengumpulkan beberapa penyumbang di antaranya Ron Conway, Paul Buchheit, Ashton Kutcher, dll. Pada bulan februari 2011, perusahaan ini berhasil menggalang dana sebesar $8.5 juta untuk modal dasar yang berasal dari Kleiner Perkins Caufield & Byers dan Index Ventures serta Digital Garage dari Jepang.

Pada bulan November dan Desember 2011, Path meluncurkan beberapa fitur baru dan meningkatkan penggunanya dari 30.000 menjadi lebih dari 300.000 dalam waktu kurang dari 1 bulan. Pada Februari 2012, perusahaan ini dikritik secara luas karena aplikasi ini mengakses dan menimpan kontak yang ada di dalam telepon selular pengguna tanpa persetujuan dari pengguna sendiri. Dalam sebuah blog yang diunggah oleh CEO Path sendiri, perusahaan meminta maaf dan menyatakan bahwa Path telah mengubah praktik ini.

Bagaimanapun, pada Maret 2012, perusahaan mendapatkan permintaan untuk memberikan informasi dari representatif kongres Henry A. Waxman dan G. K. Butterfield beserta 33 pengembang aplikasi lainnya yang menanyakan secara detail informasi apa saja yang telah dikumpulkan dari pengguna Path dan bagaimana mereka menggunakannya. Pada Februari 2013, perusahaan ini dikenai denda sebesar $800.000 oleh FTC karena menyimpan data dari pengguna di bawah umur dan diharuskan untuk evaluasi atas kebijakan privasi setiap 2 tahunselama 20 tahun ke depan.

Akankah menjadi media sosial yang sebegitu monetizing-nya, hingga mereduksi reach organik para user-nya agar usernya mau beriklan dengannya, seperti halnya Facebook dengan algoritma edgerank-nya? We’ll see…

Masa depan Path :

Path telah berhasil menjadi salah satu jejaring sosial yang terkenal dan banyak digunakan oleh pengguna di seluruh dunia. Perkembangan ini tidak terlepas dari beberapa kelebihan Path yang berbeda dari jejaring sosial lainnya. Kelebihan Path yang sangat menonjol dari jejaring sosial lainnya adalah jumlah interaksi yang sangat terbatas. Jumlah pengguna yang dapat berinteraksi dengan satu pengguna dibatasi sampai 150 saja. Hal ini menjadikan akun dari Path eksklusif dan menjaga privasi dari pengguna. Selain itu, kelebihan path dalam hal privasi pengguna tidak memungkinkan pengguna yang tidak disetujui untuk mengakses akun yang ada. Tidak adanya kolom iklan dan promosi lainnya menjadikan Path lebih terfokus kepada pengguna sendiri.

Dengan menjamurnya jejaring sosial seperti Foursquare dan juga Pinterest akhir-akhir ini, Path telah menjadi salah satu dari sosial media yang patut diperhatikan. Path menjadikan berbagi momen lebih mudah dan juga lebih interaktif. Pengembangan dari Path yang ada menjadikan jejaring sosial ini terkenal dan menarik banyak pengguna. Fitur-fitur yang tersedia dalam jejaring sosial ini menggabungkan beberapa fitur yang terdapat dalam jejaring sosial lain ke dalam satu kemudahan.

Salah satu pendiri Path yang merupakan mantan eksekutif dari jejaring sosial terkenal lainnya yaitu Facebook, memberikan banyak pengalaman yang dapat digunakan oleh perusahaan ini untuk mengembangkan aplikasinya. Pengguna Path dapat berbagi dengan 150 pengguna Path lainnya yang telah disetujui dan juga menjadi jurnal pribadi dari pengguna. Path memungkinkan pengguna untuk dapat menampilkan kehidupan mereka di dalam satu aplikasi. Path telah berkembang dari aplikasi untuk berbagi gambar menjadi aplikasi untuk berbagi pengalaman secara langsung dengan fitur-fitur yang ada. Dengan perkembangan pengguna yang telah bertambah 2 juta orang dalam 2 bulan setelah desain ulang yang dilakukan baru-baru ini, Path tentunya dapat menjadi jejaring sosial yang solid di masa depan.

Path Corporate Values :

Path dimulai dari sebuah ide, yang tercetus dari beberapa orang yang berkumpul dan bermimpi bersama di sebuah apartemen di San Fransisco, yang kemudian diwujudkan menjadi sebuah media-jejaring sosial. Dari tahun ke tahun, media sosial ini telah melalui banyak perubahan dan tahapan pengembangan, namun tetap menjaga value-nilanya. Value Path ada pada :

1. Authenticity (keaslian) :

Kami percaya bahwa diri sendiri yang asli adalah diri sendiri yang terbaik. Path adalah tempat dimana anda bisa jadi diri anda sendiri, tanpa panggung dengan lampu sorot, ataupun ekspektasi untuk jadi pribadi yang sempurna.

2. Happiness (kebahagiaan) :

Path adalah ‘business of happiness’ atau urusan kebahagiaan. Kami percaya bahwa perbincangan yang berarti dan hubungan antar personal yang sebenarnya adalah sumber kebahagiaan.

3. Simplicity (kesederhanaan) :

Path adalah semua orang yang anda sayang, dalam satu tempat. Kehidupan pribadi yang terhubung ke jejaring dengan jumlah orang lebih sedikit, yang benar-benar dekat dengan  kita.

Nah, dari informasi yang saya ambil di wikipedia dan website Path sendiri ini, bisa saya tarik kesimpulan bahwa Path bisa memberikan kita sebuah fitur yang tidak dipunyai jejaring sosial lainnya. Yaitu : intimacy.

Well, anda bisa juga sih bisa jadi diri sendiri di Facebook. Tapi, tunggu sebentar…. Yakin anda mau berbagi moment personal anda dengan ratusan, ribuan teman anda di Facebook? Yakin anda mau berbagi perjalanan hidup anda, seperti secara harafiah dinyatakan oleh Path sebagai nama-merek-brand-nya, langkah atau perjalanan dalam bahasa Indoenesia sebagai platform media sosialnya? Bisa jadi. Tapi saya, personally, tidak.

—————————————————————————————————————————————————————–

“Path itu a game of unshare” kata Tria Saraswati, @triaiyak teman saya. Kita punya jatah teman untuk berbagi sebanyak 149 teman (150 user termasuk kita), jadi kita harus pilih teman-teman mana saja yang kita anggap dekat dengan kita. Saudara, atau teman yang melebihi saudara. Tria mengaku juga pernah unshare Path-nya dengan teman sekantor gara-gara ia merasa tidak nyaman (baca : risih) kalau postingannya yang ‘all by my self – this is me’ dibaca oleh teman kantor yang tidak terlalu dekat-akrab.

By the way, unshare adalah suatu action di Path, dimana kita hapus seorang user Path dari list friend kita untuk berbagai alasan. Caranya : lama tampilan bar teman kita di path, lalu klik logo/tombol strip merah dalam lingkaran untuk unshare)

Terus, bagaimana jika kita sudah punya 149 teman di Path, dan ada seseorang yang dekat di kehidupan nyata ingin bergabung di jejaring kita? Gampang. Masuk masuk ke tab option di pojok kanan atas, pilih friends. Pilih beberapa friends yang :

1. tidak begitu dekat dengan kita (dulu kita accept karena gak enak kalau ditolak-mindset Facebook)

2. jarang posting, alias punya Path hanya untuk punya-punyaan saja, jarang dibuka apalagi posting

3. teman yang sudah basi atau gak asik lagi postingannya 🙂

Intinya bebas. Ini kan jejaring sosial kita sendiri, jadi ya terserah kita. No heart feeling kalau di-unshare. Sebagaimana di-unfollow kalau di twitter, atau di un-friend di Facebook. Toh, hubungan yang terpenting adalah hubungan pertemanan kita di dunia nyata bukan? 😉

Karena jejaringnya hanya 150 user saja, termasuk kita, jadi Path bisa memberikan data yang akurat perihal engagement kita dengan sesama user Path lain yang ada di list teman kita. Sekali kita posting sesutu : foto, lokasi, lagu yang sedang didengar-buku yang sedang dibaca-film yang sedang ditinton, quote atau status kita saat ini, Path akan menyajkan ukurannya. Kita bisa langsung lihat, postingan kita dilihat oleh berapa orang di jejaring kita (impresi). Jika misalnya, yang melihat posting kita terus- menerus ada dibawah 50 user dari 149 total friends kita di Path (diasumsikan penuh), artinya banyak dari teman Path kita yang sering tidak aktif, alias jarang buka Path. Hal ini justru mempermudah step unshare jika ada teman lama yang punya hubungan dekat dengan kita, yang ingin masuk ke jejaring Path kita. Lihat saja  satu per satu, klik salah satu. Lihat berapa lama ia sudah aktif di Path, lalu berapa moment yang ada. Kalau moment-nya ada di bawah 100, berarti dia tergolong jarang aktif di Path. Unshare? Terserah anda.

—————————————————————————————————————————————————————–

REVISI :

Sepertinya saya harus membuat revisi akan tulisan saya diatas, yang dibuat saat PATH masih ditujukan untuk high level of intimacy, hanya punya 149 teman untuk berbagi moments. Kini, PATH berubah banyak dan cenderung drastis. Kita bisa punya 500 teman di PATH, yang artinya intmacy level-pun turun. Namun semua tergantung kita juga, apakah ingin membuka akun PATH kita untuk teman-teman (lama) baru? Atau ingin stick to preserve it’s intimacy.

By the way, bisa tetap dapet intimacy level yang tinggi kalau pakai fasilitas/fitur Inner Circle. Dengan hanya menandai teman-teman PATH terdekat kita dengan tanda bintang. Tinggal tekan tanda bintang di masing-masing profil teman PATH kita. Kita bisa sharing moment-moment kita dengan hanya orang-orang terdekat di inner circle ini. Circle, remind me of Google+, no? 🙂

PATH juga terus membuat update untuk maksud kenyamanan penggunanya, sampai mereka harus memisahkan fitur chat yang sebelumnya ada di dalam aplikasi, menjadi aplikasi chat terpisah. Juga dengan memindahkan tombol share yang sebelumnya ada di sebelah kiri bawah, kini di aplikasi PATH yag baru ada di bagian tengah halaman.

Path juga sangat interaktif. Anda bisa minta teman anda yang posting tag lokasi, untuk take foto ditempat tersebut. Misalnya, teman anda sedang posting tag lokasi di Warung Gudeg Yu Djum di Yogyakarta, lalu anda lihat dan suka, anda tinggal  minta teman anda untuk ambil foto lalu posting. Anda juga bisa klik icon-icon yang ada sebagai respon. Smile (tersenyum), laugh (kedipkan mata-tertawa), gasp (terperangah), frown (sedih-tidak suka), atau love (menyukai).

Ingin repost? Ada 😀 Anda tinggal klik lama foto atau apapun yang di-posting teman anda, lalu akan muncul 3 pilihan : save photo, repath, dan use as cover photo. Namanya Repath. Klik repath, lalu postingan teman anda yang anda suka akan terposting ulang di path anda, dibaca oleh teman-teman Path anda, yang anda pikir akan mendapatkan value dari postingan anda. Misalnya : postingan lucu bisa membuat teman-teman anda tertawa (klik icon smile atau wink), mendapatkan informasi, dan sebagainya. Anda bisa minta ijin teman anda untuk repath posting-nya, bisa juga tidak. Karena bisa jadi, postingan teman anda adalah repost atau repath dari jejaring pertemanan lainnya. Satu lagi, jangan lupa untag teman-teman yang atached di postingan sebelumnya, yang ingin anda repath, agar tidak mengganggu.

Ada sebuah cerita di Jepang, dibagi oleh user Path yang bernama Wat yang tinggal di Tokyo Jepang. Ia menjalani LDR (long distance relationship) dengan kekasihnya, dimana ia dan kekasihnya menggunakan Path untuk berbagi moment setiap saat. Mereka berbagi lokasi, lagu yang sedang didengar, foto maupun video keseharian mereka. Suatu hal yang bisa membuat mereka tetap dekat, meskipun terpisah jarak.

Path Story, from Wat-Tokyo
Path Story, from Wat-Tokyo

 

Nah, itu dia sekelumit tentang media sosial yang tengah marak di Indonesia saat ini, Path. Ingin bergabung? Gampang! Tinggal download saja aplikasi Path di Google Play atau application store lainnya.  Get intimately and closely connected, and enjoy!

Sumber tulisan :

1. Wikipedia : http://en.wikipedia.org/wiki/Path_(social_network)

2. Path.com : https://path.com/values ; https://path.com/blog/43090654997/moments-on-path-a-love-letter

Advertisements

9 thoughts on “Berbagi Perjalanan Hidup via PATH

  1. mau tnanya, kenapa gk bisa semua fhoto” profil teman gk bisa dlihat ato gk nampil, n gimana cra’a biar bisa ke bhs indonesia, cuman itu,, mhon ya,.

    • Saya kurang jelas dengan pertanyaan pertama. Perkiraan saya, mungkin waktu loading yang lama sehingga foto profil teman-teman Path mbak Eni tidak terlihat?

      Untuk pertanyaan kedua, saya baru cek di halaman setting dan belum tersedia pilihan untuk rubah ke Bahasa Indonesia. Lagipula tidak ada salahnya kan, kalau kita terbiasa dan membiasakan diri dengan bahasa Inggris? 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s