Catatan Liverpool Football Club Tour 2013 – Jakarta, Indonesia

SU-GBK 20 Juli 2013. Merah!
SU-GBK 20 Juli 2013. Merah!

Bukan. Ini bukan foto supporter-fans timnas merah putih yang sedang berlaga di SU-GBK (Stadion Utama – Gelora Bung Karno), yang selalu all out memberikan yang terbaik buat bangsa Indonesia. Ini adalah supporter – fans Livepool FC yang datang berduyun-duyun ke SU-GBK untuk mendukung team kebanggaannya. Melihat penampilan Steven Gerrard dkk untuk pertama kalinya di Jakarta-Indonesia. Menyanyi tanpa henti selama 90 menit (bahkan lebih, terhitung 2 jam sebelum laga dimulai, fans LFC sudah mulai menyanyikan chant-chant kebanggaan mereka, hingga pertandingan berakhir juga masih terdengar chant-chant tersebut dinyanyikan). Menyalakan pyro (flammable stuffs), flares dan smoke bombs. Mengibarkan scarf mereka manakala lagu-lagu dan chant-chant kebesaran LFC dinyanyikan. Menangis terharu…

Itu saya.

Itu apa yang saya lakukan dan alami bersama-sama dengan fans LFC lainnya, yang tergabung di sektor 9-11 SU-GBK dalam nama Big Reds (Bold indonesian Group of Liverpool Supporters), official fans club di Indonesia yang diakui oleh LFC sendiri. Kami menyebut diri kami Kopites, atau Wools. Bukan Liverpudlians dimana dulu nama ini adalah nama sebutan untuk fans LFC.

Bukan. Liverpudlians adalah sebutan untuk warga kota Liverpool-Inggris, tidak peduli ia fans Liverpool FC ataukah ia fans Everton FC. Klub bola yang stadion-nya, Goodison Park yang hanya sepelemparan batu saja dari Anfield Stadium, stadion kebanggaan LFC. Sama-sama tim dari tepi sungai Mersey. Hanya beda di prestasi 😉

Kopites? Ini adalah sebutan untuk kami, fans LFC secara global. Atau Wools, sebutan untuk fans LFC yang tinggal diluar kota Liverpool. Dan Liverpudlians yang seorang Kopite, akan menyebut-memanggil kami, fans Liverpool dari Indonesia ini dengan sebutan demikian. Yes, we are Indonesian Kopites. We’re Wools. Some proud and loyal Liverpool FC fans!

Bulan Juli adalah bulan yang istimewa buat Kopites Indonesia. Selain bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, juga diramaikan dengan kedatangan team kesayangan, hampir seluruh crew, termasuk Ian Ayre (Managing Director LFC). Ini berarti, selain melakukan laga persahabatan, ada perjalanan bisnis juga. Perjalanan panjang ini dimulai dari tanggal 17 Juli 2013 di Bandara Halim Perdanakusumah, tanggal dimana team LFC menjejakkan kakinya untuk pertama kali di Indonesia hingga tanggal 21 Juli 2013, saat mereka bertolak meninggalkan Bandara Halim Perdanakusumah untuk melanjutkan tour ke Melbourne, Australia. Namun tanggal yang kami, Kopites, ingat adalah saat mereka berlaga di depan mata kami semua di SU-GBK. Saat yang mungkin bakal  kami ingat seumur hidup kami, karena mungkin beberapa dari kami (termasuk saya), tidak akan bisa melihat mereka berlaga lagi di Indonesia, maupun melihat mereka berlaga di Anfield Stadium secara langsung. Karena alasan finansial atau umur yang tidak panjang….

Ini cerita saya…

17 Juli 2013, Bandara Halim Pedanakusumah

Bandara Halim Perdanakusumah, 17 Juli 2013
Bandara Halim Perdanakusumah, 17 Juli 2013

Saya hadir disana. Saya tidak mau kehilangan moment untuk melihat mereka secara langsung untuk pertama kali, bersama dengan sekitar 2 ribuan Kopites lainnya, kami menyemut di sepanjang jalan keluar. Tidak perlu pagar, tidak perlu penjagaan khusus. kami tahu bagaimana harus bersikap. Kami tahu bahwa team sepak bola kesayangan yang akan datang berhak untuk mendapatkan sambutan istimewa, yang mereka sendiri tidak akan pernah lupakan. Sekitar pukul 14.15 kesempatan itu datang juga…

Bus team dengan tempelan tulisan “Melwood Players” keluar juga dengan didahului mobil patroli polisi bersirene. Moment istimewa 1! Karena berdiri menunggu di sebelah kanan jalan, alhasil sisi kiri bus yang terlihat. Doa kami-kami yang berdiri di sisi kiri jalan : “Semoga Gerrard duduk di sebelah kiri bus”. Saya sudah siap dengan Galaxy Tab saya, ingin mengabadikan…

Di barisan depan, terlihat Brendan Rodger, the gaffer. Saya saat itu histeris berteriak, “Brendan! Brendaaan!” Beliau pun mengabadikan apa yang ia lihat via iPhone-nya, sambil sesekali tersenyum dan melambaikan tangannya dengan ramah. Lalu Fabio Borini, Martin Kelly, Jordan Henderson, Raheem Sterling, dan duduk di bangku paling belakang, the one and only, our captain fantastic,  Steven Gerrard. Keadaan memanas, saling dorong antar sesama Kopites yang ingin mengabadikan moment ini, video dan foto. Saat Gerrard lewat di depan mata kami semua, saat ia tersenyum ramah 🙂 Lewat laman resmi LFC di Indonesia, para pemain mengungkapkan kekagumannya atas sambutan kami. Salah satunya adalah Stewart Downing, sayap kiri lincah yang sering disorot karena harga dan penampilannya yang kurang sepadan, terkesima dengan pemandangan ini. “Saya tidak pernah melihat sambutan seperti ini, bahkan di klub klub yang pernah saya bela sebelumnya”, ujarnya. Ditambah lagi dengan spanduk raksasa bertuliskan “SD19 Stay Here”. Memang gila, saya melihat teman-teman sesama fans Liverpool sampai terjatuh mengejar bus pemain dengan kamera ditangan, mengejar dan mengawal bus pemain dengan sepeda motor hingga Hotel Mulia, tempat mereka menginap selama di Jakarta.

https://www.youtube.com/watch?v=lkr3mhBQy_A

Kalau nonton video youtube diatas sampai selesai, akan terdengar suara saya yang terbata-bata karena terharu (Yes, I was crying that day. Tears of joy, off course), mengucapkan terima kasih buat yang diatas untuk mengijinkan saya melihat moment ini :’)

Dan dari moment itu, dengan penyambutan yang sedemikian gilanya, saya yakin dalam waktu 1-2 tahun kedepan, LFC akan kembali lagi ke Indonesia, dengan tagar #LFCTour2014 atau #LFCTour2015

Amin!

Yakin LFC sudah melihat yang terbaik dari kami? Belum. Kami masih punya banyak hal untuk ditunjukkan, untuk membuat mereka semua terkesan…

19 Juli 2013, fx Sudirman dan SU-GBK

Sehari sebelum gelaran laga LFC vs Indonesia XI, salah satu moment yang saya nantikan adalah melihat seluruh pemain LFC berlatih. Hak istimewa ini diberikan kepada member BigReds, tiket yang ditebus seharga Rp 400.000,- sudah termasuk scarf edisi spesial #LFCTour2013 dan tiket khusus untuk melihat sesi latihan resmi hari Jumat 19 Juli 2013 pukul 18.30. Dari rumah, logistik dan pakaian khusus untuk menonton latihan resmi LFC sudah disiapkan. I’m so ready!

Sejak siang hari, saya setting untuk meeting di fx Sudirman. Beruntung saat itu, mBak Veronica dari Berita Satu holdings mau diajak bertemu di Sate Khas Senayan fx Sudirman (duh, maaf ya, kami makan saat semuanya sedang berpuasa).  Alangkah terperanjatnya saya, sebab di fx Sudirman selain sudah ramai dengan fans LFC, segala pernak-pernik LFC (banner, replika Shankly gate di pintu depan, foto team, figur para pemain – termasuk pemain LFC yg hijrah – dipinjamkan ke Napoli mengikuti Rafael Benitez, kiper Pepe Reina, dan panggung – red carpet yang entah untuk siapa 😉 Hari itu adalah launching Breeze, produk e-commerce Standard Chartered, sponsor LFC. Hari itu, sembari kami meeting, ratusan fans LFC (yang juga tengah berpuasa) menyanyikan chant khas LFC di pintu depan. Ramai. Dan gelaran karpet merah hanya dipakai oleh tamu dan petinggi Standard Chartered (ini bagian yang kurang asik, tapi what the hell!). Para pemain dan official LFC? Mereka masuk dari pintu belakang, we’re all got tricked 😀

Mereka? Siapa mereka? Robbie ‘God’ Fowler dan Dietmarr Hamann mewakili pemain eks LFC yang masih stick around, dan menyusul Jordan Henderson, Daniel Agger, Martin Skrtel, Martin Kelly. Jangan ditanya situasinya, it’s so damn crowded! Saya tidak melihat event ini sampai selesai, karena jujur, nggak asik. Dari MC yang membawakan acara, sampai acara meet and greet dan photo session yang hanya diikuti oleh petinggi Standard Chartered dan koleganya. Saya tinggal untuk balik ke mobil, berganti baju. Baju yang pantas untuk fans LFC. Saya sudah siapkan kaos merah dan jersey KW Thai Reebok retro final Istanbul 2005, celana pendek, scarf, dan sneakers Adidas Titan. Ada sesuatu hal yang terjadi, a quite strong impulse came over me that day… Disaat berjalan menuju parkiran basement fx Sudirman, langkah terhenti di LFC merchandise corner. Ada jersey Warrior 2013/2014 disitu, dan saya punya voucher diskon 20% dari pembelian tiket via BigReds Bekasi. Hihihihihi….

Jadilah, jersey LFC Warrior Sport size XL seharga Rp 699.000,- ditebus seharga Rp 559.200,- dan langsung dipakai hari itu juga.

Langkah saya terhenti saat saya melihat sosok yang beberapa minggu terakhir sering muncul di timeline twitter saya, Paul Cumming. Opa Paul Cumming terlihat oleh saya sedang duduk di salah satu cafe di fx Sudirman ditemani beberapa teman. Seorang penggiat sepakbola dari Inggris yang sempat menukangi PSBL Bandar Lampung dan Perseman Manokwari, dinaturalisasi jadi WNI, dan merasakan manis pahitnya hidup di Indonesia. Lebih lengkap tentang Paul Cumming baca disini.

Paul Cumming at fx Senayan
Paul Cumming at fx Senayan

Siang sampai sore hari itu cuaca cukup cerah. Di jam 4 sore, saya beranjak dengan teman-teman lainnya, melangkah ke SU-GBK. Di seputaran pelataran GBK sudah menjadi lautan merah, fans Liverpool sudah ada disana. Mereka bernyanyi dengan penuh semangat meskipun sedang berpuasa. Lagu kebesaran seperti You’ll Never Walk Alone, Fields of Anfield Road, We’re Liverpool, maupun chant-chant milik pemain seperti Steven Gerrard, Jose Enrique, Luis Suarez (yang nggak tahu bakal berapa lama akan bertahan di Anfield, namun saya peribadi berharap dia akan bertahan), dan Jamie Carragher terdengar. Dinyanyikan.  Kibaran bendera, banner, scarf yang didominasi warna merah menjadi pemandangan lumrah yang luar biasa disitu.

LFC Training Session 19 Juli 2013
LFC Training Session 19 Juli 2013

Ada satu cerita lucu hari itu 😀

Saat sedang bersemangat-semangatnya benyanyi, ada beberapa fans LFC yang menyanyikan chant ejekan ke MUFC. Dan ditirukan oleh beberapa lalu banyak fans lain. Ternyata ada satu orang yang mengenakan jersey MUFC, arch rival LFC di EPL. Pemuda itu mengenakan jersey MU dengan nama Rooney #10 di punggungnya.  Ada satu orang yang langsung mengajak pemuda tadi bicara baik-baik, mungkin mengingatkan kalau hari ini di SU-GBK ada event besar buat fans LFC. Apa daya, segera puluhan dan hampir ratusan fans lainnya mengerubungi pemuda tadi. Tidak diapa-apakan sih… Cuma dari kejauhan saya lihat jersey merah MUFC tadi dicopot dan dilempar ke udara. Dan pemuda tadi berganti kaos biru, tidak diapa-apakan. Hanya terlihat shaky saja 😀

Entah antara bodoh, cari penyakit, atau tidak tahu, pemuda tadi mengenakan jersey MUFC ditengah-tengah kawanan fans LFC di SU-GBK. Tapi buat saya, sefanatik-fanatiknya saya terhadap LFC, jika ada event MUFC saya juga akan tahu diri. Tidak akan mengenakan atribut LFC saat ada ditengah-tengah mereka. Semua ada moment-nya sendiri-sendiri, dan wajib saling, jaga respect. IMHO.

Beberapa dari kami berujar “Ini baru nonton latihannya, bro! Gimana besok pas main ya?” mengomentari kondisi seputar SU-GBK yang sudah ramai dan memerah.

Sekitar pukul 16.00 WIB, gate khusus member Big Reds dan undangan dibuka. Ribuan dari kami mengantre dan mengular untuk masuk ke dalam stadion yang hanya dibatasi hanya 2 pintu saja. Ada chaos? Tidak. Kami saling menjaga satu sama lain, ingin meninggalkan citra baik diantara fans – supporter team EPL lainnya.

Latihan dimulai on time. Seluruh jajaran team LFC tampak di lapangan SU-GBK. Latihan dimulai dengan (I don’t know that kind of football training method was called) 3 kelompok kecil saling passing dengan 2 pemain yang bertugas merebut bola hanya dengan cukup menyentuh bola, agar passing terpatahkan. Demikian seterusnya hingga sang gaffer membuat suara peluit khas seperti yang ia biasa lakukan di Melwood (teringat mini seri Being Liverpool 1-4). Sementara Simon Mignolet dan Brad Jones berlatih sendiri di sisi lapangan yang lain, para pemain (striker, gelandang, bek) berlatih dengan metode latihan berbeda. Masih tanpa kiper.

Bermain pass and move setengah lapangan dengan tiga gawang kecil ditiap sisi pertahanan, terlihat sangat menarik dan dinamis. Tiap pemain, terutama gelandang sibuk ‘mengangkut air’ ke depan belakang, menjaga aliran bola dari bek ke penyerang tetap lancar (cieee…. ujug-ujug jadi komentator bola). Cukup susah menceploskan bola ke tiga gawang kecil itu. Saya ingat hanya Phillipe Coutinho dan Luis Enrique yang berhasil membuat gol ke gawang kecil malam itu.

Dan euforia itu ada. Sepanjang pemain LFC berlatih, fans LFC tak henti-hentinya menyanyikan dedicated chants. Chants Lucas Leiva, Steven Gerrard, Jose Enrique, dan bahkan chant Luis Suarez yang berlirik ‘He came from Ajax to Liverpool, so please don’t take our Luis Suarez’ pun turut dinyanyikan. Sebagian berkata, “Nih orangnya (Suarez) ga ada koq malah dinyanyiin terus sih?” Beberapa menyaut, “Gapapa, siapa tahu dia nonton video sesi latihan ini dan batal pergi dari Anfield”

Beberapa kali Gerrard, Lucas, ataupun Enrique melambaikan tangannya dan memberikan applause manakala fans LFC menyanyikan chant mereka. Dan tentunya dibalas applause dan teriakan senang para fans loyal klub ini.

Latihan sore itupun ditutup, satu per satu pemain masuk kembali ke ruang ganti. Sebagian besar dari mereka memberikan applause untuk para penonton yang datang sore itu. Yang tak kunjung lelah bernyanyi, menyemangati.

Saya keluar dari stadion malam hari itu bersama dengan sesama fans LFC lainnya, sebagian masih betah duduk-duduk di dalam. Sekalian foto-foto nampaknya 🙂 Di tangga turun, saya lihat Paul Cumming ( @papuansocccer ) turun perlahan-lahan dibimbing oleh beberapa rekan. Saya kejar dan tepuk pelan bahunya dari belakang. ” Senang sekali bisa ketemu opa disini” ujar saya. “Saya senang sekali bisa lihat Liverpool, sampai ketemu besok disini ya! Kita nonton Liverpool bareng” ujarnya dengan sangat ramah. Mengingat hari itu beliau baru saja sampai di jakarta dengan kereta api dari kota Malang (kota kelahiran saya), dan langsung mengikuti rangkaian acara hari itu.

Di twitter malam itu, ada himbauan untuk tidak membawa atau meniup terompet di dalam stadion. Kita ingin  selama 90 menit nanti hanya akan terdengar nyanyian  dan lantunan chant supporter-fans Liverpool. Those trumpet seller at GBK, I pity them 😉

20 Juli 2013, the day!

Tibalah hari itu. Hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh rakyat Liverpool FC yang ada di Indonesia dan negara-negara sekitarnya. Moment yang sudah dipersiapkan dengan sepenuh hati oleh Pak Andhika Suksmana ( @deekesuksmana ), bapak Liverpool Indonesia, mas Fajar Nugraha-presiden BigReds dan segenap BigReds member lainnya. Saya angkat topi untuk kerja keras dan perjuangan kalian hingga LFC bisa datang dan bermain di Jakarta tanpa promotor. Hanya digawangi BigReds, EO Mahaka Sports, dan MyTicketID yang handle urusan per-tiket-an. Cerita perjuangan panjang mas Deeka Suksmana dan rekan-rekan BigReds bisa dilihat disini dan disini.

Hari itu cuaca kurang bersahabat. Hujan turun cukup deras di seputaran fx Sudirman dan tentunya GBK sejak pukul 14.00 WIB, saya berteduh sebentar di Kaffein fx Sudirman. Ngopi-ngopi dulu sambil menunggu hujan. Siang itu, saya pakai topi LFC warna merah, kaos replika jersey Istanbul 2005 lansiran Hooligans, celana pendek abu-abu favorit saya, scarf special edition, dan tak lupa sepatu Adidas Liverpool edition warna hitam garis kuning terang, sepatu favorit saya. So ready!

Tidak berangkat bareng rombongan BigReds Bekasi, saya berangkat sendiri dan parkir di fx Sudirman dengan alasan keamanan, dan kemudahan untuk keluar masuk. Pukul 14.00 WIB parkiran fx Sudirman masih cukup lengang, and it’s great!

Saya melangkah keluar dari fx Sudirman dalam bayang-bayang gerimis, menuju stadion kebanggaan rakyat Indonesia. Dan supaya anda tahu saja, ini adalah pengalaman saya menyaksikan laga sepakbola besar langsung di dalam stadion. Saya asli Malang, kota dengan kultur sepakbola yang kuat, dimana penduduk kota Malang dan sekitarnya sebagian besar adalah fans klub sepak bola Arema Malang atau biasa dikenal dengan Aremania. Salah satu fans base klub sepak bola Indonesia yang sangat militan dan fanatik. Namun belum sekalipun saya menonton laga Arema langsung di stadion kebanggaanya, Stadion Kanjuruhan-Kepanjen maupun dulu saat masih bermarkas di Stadion Gajayana Malang 😦

Seperti diprediksi sebelumnya, seputaran SU-GBK sudah menjadi lautan merah. Dan saya yakin tidak ada fans MUFC (baca : Manchester United) yang nyasar masuk komplek SU-GBK. Konyol pasti…. 😀

Kali ini lebih pengamanan lebih ketat. Hanya mereka yang membawa tiket asli yang boleh masuk ke komplek SU-GBK. Dari pintu-pintu masuk yang dibuka, di tiap gate ada petugas dengan detektor uang palsu (sinar ultraviolet) untuk verifikasi keaslian tiket yang dipegang tiap fans. Sempat bertemu dengan beberapa member BigReds Bekasi saat sudah masuk komplek SU-GBK. Mereka sudah bersiap-siap dengan giant banner yang mereka buat dengan tangan, no digital printing. All are worked by hand. And by heart :’) Tepat pukul 16.30 WIB saya dengar gate 5 SU-GBK sudah dibuka dan benar, ribuan orang sudah menyemut didepan gate.  Mengantre mengular untuk masuk. Saya salut dengan rekan-rekan sesama fans LFC yang berpuasa hari itu. Lelah, haus, lapar, panas ditahan untuk bisa masuk ke komplek stadion dan melihat team kebanggaannya bermain.

IMG_20130720_173339
Antrean masuk SU-GBK hari itu..

Ada hal yang menarik. Biarpun bermain di GBK, namun kualitas dan standard keamanan yang dipakai adalah standard keamanan Anfield, bukan standard keamanan panpel SU-GBK. Ketat!

Alhasil antrean yang panjang khusus member BigReds tadi hanya berujung di satu (baca : hanya 1 pintu masuk untuk +/- 9 ribuan fans) pintu saja. Teriakan tidak sabar mulai muncul disana-sini. Wajar.

Tepat disamping saya, ada rombongan keluarga yang semuanya adalah fans LFC yang datang jauh-jauh dari kota Mataram, Lombok. Bapak-ibu, dan putra putrinya. Sempat ngobrol sedikit dengan si bapak, beliau mengambil cuti cukup panjang untuk melihat Steven Gerrard dan kawan-kawan berlaga lansung di depan mata. Sempat ada tepuk tangan riuh bergemuruh, dan saya lihat Paul Cumming sudah masuk dahulu. Beliau masuk diiringi chant : “One Paul Cumming, there’s only one Paul Cumming. Oh Paul Cumming, there’s only one Paul Cumming” dan You’ll Never Walk Alone tentunya. Beliau terharu dengan apa yang diberikan fans LFC hari itu. “Belum pernah saya mendapatkan yang seperti ini” ujarnya dengan mata berkaca-kaca :’)

Menyusul Aal, fans LFC asal Aceh yang nekat hendak naik motor ke Jakarta untuk melihat laga ini, namun naas menimpanya. Aal mengalami kecelakaan motor di Medan, patah kaki. Dengan bantuan fans LFC lainnya, Aal bisa naik pesawat hingga sampai di SU-GBK hari itu bersama kami semua. Saya sendiri melihat moment istimewa itu. Aal dipapah dua temannya, dengan tongkat penyangga di lengan kiri dan satu lagi tongkat penyangga (kruk) dibawa temannya, naik dengan tertatih-tatih. Langkahnya diiringi dengan lantunan “You’ll Never Walk Alone” dari teman-teman sesama penggila Liverpool FC. Masih segar di ingatan saya, salah satu rekan berteriak lantang untuk Aal : “Aal, kamu tidak akan pernah berjalan sendirian!” Dan disambut reffrain lagu kebesaran LFC tersebut, diikuti oleh seluruh fans yang sedang mengantre masuk. Aal pun terisak haru…

Pukul 17.57 saat bedug Maghrib, saat buka puasa tiba. Pemandangan yang sungguh indah. Perjuangan rekan-rekan satu hari puasa ditengah panas terik dan hujan yang turun, mengantre masuk stadion berjam-jam lamanya. Saya berhasil masuk SU-GBK (untuk pertama kali) pukul 18.20 🙂 Saya duduk di sektor 9 (kalau tidak salah), bersama-sama dengan member BigReds lainnya dari seluruh penjuru tanah air. Banner-banner sudah terpasang, beberapa diantaranya membuat saya berdecak kagum. Fanatisme saya dibandingkan teman-teman ini tidak ada apa-apanya..

Inside SU-GBK #thisisgbk
Inside SU-GBK #thisisgbk

2 jam menunggu pertandingan sungguh tidak terasa. Tahu-tahu beberapa banner sponsor untuk seremoni pembukaan disiapkan. Hari itu tidak ada lantunan Indonesia Raya. Karena yang berlaga bukan timnas garuda, melainkan Indonesia XI. Yang diyakini adalah gabungan pemain-pemain terbaik di Indonesia. Sergio van Dyjk, Raphael Maitimo, Ahmad Bustomi, Hasim Kipuw, dan Kurnia Meiga adalah beberapa nama yang dipersiapkan menghadapi squad The Reds malam itu. Squad The Reds di babak pertama : Simon Mignolet (GK) ; Jose Enrique (LB), Kolo Toure (CB), Daniel Agger (CB), Glen Johnson (RB) ; Stewart Downing (AM), Steven Gerrard (DM), Lucas Leiva (DM), Luis Alberto (AM), Iago Aspas (CF), dan Phillipe Coutinho (AM-CF).

Kick off!

Dibandingkan laga versus Arsenal sebelumnya, Liverpool FC cenderung bermain taktis, mencoba semakin memperdalam filosofi pass and move ala Brandon Rodgers, a.k.a English tiki-taka. Mematangkan filosofi dan strategi di tahun kedua, yang semoga bisa membawa mereka setidaknya mencuri satu posisi di 4 besar, juara League Cup atau FA Cup 🙂

Well, I’m not good at talking about football strategy, so let’s leave it to our football pundits, shall we?

It’s a 2-0 game. LFC menang 2-0 atas Indonesia XI lewat 2 gol yang dicetak Phillipe Countinho dan Raheem Sterling. Bisa jadi 4 atau 5 kosong kalau Iago Aspas tidak offside di babak 1, dan 2 sontekan Luis Alberto tidak kena tiang. Ada chant unik, dengan menggunakan nada lagu Que Sera-Sera, dimana sudah dipakai jadi nada chant Steven Gerrard, oleh fans LFC Indonesia dijadikan chant ‘mengutuk’ tiang gawang. Begini liriknya : “Oh tiang-tang, kenapa kena tiang? Selalu kena tiang, oh tiang-tiang” 😀

Ingin tahu suasana SU-GBK dari tempat duduk saya? Nih!

https://www.youtube.com/watch?v=S0JfiR9-Drs

Teriakan fans LFC untuk buang terompet saat ada yang membunyikannya ada disini :

https://www.youtube.com/watch?v=WRjA47HYhMw

Fans LFC memang istimewa, militansi dan fanatisme-nya luar biasa. Saya berterima kasih pada yang diatas, untuk hari ini. Ini pengalaman saya menonton laga besar dengan ribuan orang dalam satu stadion, dan team yang saya tonton adalah Liverpool FC, yang dijamu oleh pemain-pemain terbaik dari Indonesia. Good or bad, mau disebut apapun, mau di awal pertandingan tidak ada lantunan Indonesia Raya, tetap saya bangga dengan tim sepakbola ini. Mungkin rasa haru saya, air mata saya akan jatuh lebih banyak jika Indonesia Raya dinyanyikan, bergantian dengan You’ll Never Walk Alone di awal pertandingan, bersama dengan puluhan ribu fans dan penggembira LFC lainnya. Saya tidak malu mengakui kalau sebagian scarf saya basah oleh air mata, pada malam itu, saya tidak malu mengakui kalau saya menangis haru malam itu. 20 Juli 2013, salah satu hari terhebat dan paling luar biasa sepanjang 33 tahun saya hidup.

 

-hyp-

Advertisements

3 thoughts on “Catatan Liverpool Football Club Tour 2013 – Jakarta, Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s