Pemimpin yang jago adalah…

“The best leaders is when people do not notice his attendance” – Lao Tsu

Lights up others
Leaders show the way to others…

Tiap kali baca quote jenius seperti diatas, pasti jadi pengen ngisi blog ini lagi (which I think it’s just positive) πŸ˜€ Because those words just inspire me, like a lot! Beberapa interpretasi yang muncul antara lain :

1. Kalo pemimpinnya beneran jago (dan open minded), pasti ia tidak akan keberatan kalau anak buahnya ikutan jadi jago. Atau tidak takut anak buahnya jadi lebih jago dari pemimpinnya. Caranya? Ia akan menularkan ilmunya, tidak pelit berbagi tips-tips suksesnya, membesarkan anak buahnya, membantu anak buahnya untuk mencapai level-level yang lebih tinggi.

2. Tidak perlu setiap pemimpin ‘ngoprak-oprak’ atau selalu mendorong (baca : memaksa) anak buahnya untuk bekerja sesuai Β yang seharusnya, jika ia sudah menanamkan kultur tahu diri, tahu apa tanggung jawab-kewajiban di tiap posisi anak buahnya.

3. Jika kultur tahu diri ini sudah tertanam, maka pekerjaan si boss akan cenderung ringan. Bahkan, bisa dikatakan ia tidak selalu harus ada di ruangan atau mejanya tiap hari untuk mengawasi mereka.

4. Kultur tahu diri ini jika ditambah dengan kultur positif untuk terus belajar dan mengembangkan diri sendiri, maka yang dihasilkan adalah calon-calon pemimpin baru. Inilah saatnya si boss membuat semacam talent pool. Mengklasifikasikan anak buah berdasarkan penilaian kemampuan, attitude, etos kerja, dan semacamnya menjadi mana yang bisa dipromosikan, mana yang perlu dibina kembali.

5. Kenapa pemimpin yang baik membuat orang lain (termasuk) anak buahnya kadang tidak merasakan kehadirannya, as said above? Karena tiap anak buahnya punya kesadaran akan peran dan tanggung jawab masing-masing. Karena tiap anak buahnya adalah boss untuk diri mereka masing-masing.

Nah, apa jadinya kalau pemimpin yang jago bisa menginspirasi anak buahnya untuk dapat perform seperti dia? Satu ruangan yang sunyi. Maksudnya, tidak perlu sering ada perintah dikeluarkan kepada salah satu anak buahnya untuk mengingatkan tugas yang diberikan, semua berjalan sesuai yang seharusnya. Hanya sesekali perlu mengawasi dan mengembalikan jalannya operasi divisi yang dipimpin ke arah yang benar. Salah satunya adalah lewat proses evaluasi yang berkelanjutan.

Saya jadi ingat Warren Buffet, seorang entrepreneur sukses asal Amerika Serikat yang hanya perlu meeting dengan jajarannya beberapa kali dalam setahun. Sekali pada saat penentuan target perusahaan, meeting ditengah tahun jika diperlukan, dan meeting di akhir tahun saat pelaporan pencapaian target yang sudah direncanakan.

Bagaimana bisa?

Bisa, karena pada awalnya ia merekrut orang-orang yang benar-benar tepat. Itu kunci suksesnya. Pemilihan dan penempatan orang yang tepat, dengan positive attitude dan diberikan positive culture yang ada, akan sangat mempermudah jalannya operasi suatu divisi, dan bahkan mungkin satu perusahaan.

Tulisan ini akan saya tutup dengan beberapa pertanyaan kontemplatif :

1. Apakah saya termasuk boss yang jago, seperti diilustrasikan diatas?

2. Apakah anak buah saya merasa ada manfaat lebih saat berada dibawah kepemimpinan saya?

3. Sudahkah saya punya right man on the right place di divisi saya?

4. Bisakah menentukan anak buah mana saja yang layak dipromosikan?

5. Apakah saya termasuk boss yang tidak melanggar aturan yang dibuat sendiri, menepati ucapan sendiri? Bisakah anak buah percaya pada saya? Dan sebaliknya, bisakah saya percaya pada anak buah saya?

Yuk, kita berkaca dulu… πŸ˜‰

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s