Konsumen Kelas Menengah Indonesia dan Konsumerisme

Starbucks Tumblers, at Starbucks Kota Kasablanka

Starbucks Coffee…

Saya rasa di Jakarta, brand warung kopi ini jadi salah satu brand yang paling familiar. Tempat mereka ngopi, nongkrong, meeting, istirahat sejenak setelah belanja dengan segambreng tentengan mereka, nge-charge smartphone, komputer tablet, bahkan komputer canggih mereka.

Sudah disadari, bahwa menghabiskan kopi dan snacks sambil duduk-duduk manis (atau biasanya disebut ngopi-ngopi centil) di gerai Starbucks bisa menciptakan image keren. Mungkin yang sudah biasa ngopi disana merasa biasa saja, ya ini sama saja dengan ngopi di warung-warung kopi lainnya. Biasa? Minuman ukuran sedang Rp 37.000,- itu biasa? Wow!

Mungkin seseorang akan merasa keren saat memesan kopi ke salah satu barista, saat menyebutkan pesanannya. “Satu iced hazelnut latte extra shot grande!” Kemudian perbincangan dilanjutkan dengan “Mbak, BCA ada promo apa? Upsize doang? Okay, kalau gitu upsize ke venti aja deh” πŸ™‚ Selanjutnya setelah mengambil minumannya, ia akan menuju meja racik di dekat pick up point. Menambahkan simple syrup, chocolate powder, cinnamon powder, mengaduknya lalu mencicipi minumannya yang customized” Sluurp! Duduk di salah satu sofa, membuka komputer tabletnya lalu entah melakukan apa dengan gadget-nya itu. Oh ya, satu lagi… Sebelum duduk, ia akan mencari spot sofa/kursi dengan colokan listrik. Udah tahu kira-kira buat apa’an kan? πŸ˜‰

That’s what usually happen at Starbucks πŸ™‚

Apa lagi spot hang out konsumen kelas menengah? Banyak! Warung mie Jepang (saya sebut demikian) atau ramen, sushi-sashimi, dan juga warung-warung kopi lain yang tidak kalah pamornya dibanding Starbucks Coffee.

Tadi saya sudah sebut gadget? Yup, gadget… Tawaran cicilan dengan bunga 0% menjadi salah satu daya tarik promosi gadget. Prinsipnya, mereka akan sangat bangga dengan gadget yang mereka tenteng. Tidak tahu itu hasil beli dengan cash atau nyicil. Sah-sah saja sih. Segala macam Blackberry, iPhone, tablet Android, laptop, dan sebagainya seolah jadi alat buat eskalasi status sosial. Masih ingat dengan launching Blackberry Bold 9790 September 2011 lalu di mall super mewah Pacific Place? 1.000 unit smartphone yang dijual 50% dari harga pasar, khusus di hari itu-dibantu dengan iklan full page di Harian Kompas, sukses membuat ribuan orang berdesak-desakan hingga memakan korban cedera akibat terinjak-injak.

Pertanyaan saya, apakah mereka yang rela berjuang demi mendapatkan smartphone itu tidak punya uang? Tentu saja mereka punya. Berlebih malah. Malah sanggup membayar orang untuk mengantre smartphone tersebut. Orang Indonesia paling suka menjadi yang ter-per. Pertama, dan ter-ter lainnnya. Terdepan, tercanggih, terkeren, dan sebagainya. Paling suka menjadi yang paing ‘heits’ paling ‘cool’ dengan gadget dan barang-barangnya. Mereka, yang tergolong kalangan nanggung, bukan orang kaya namun jauh dari miskin, yang menjadi motor penggerak perekonomian Jakarta.

Lebih suka belanja di supermarket-hypermarket-minimarket dibanding belanja di pasar tradisional (meskipun bisa jadi lebih mahal), lebih suka jalan-jalan dan makan-makan di mall dibanding jalan-jalan ke tempat wisata alam. Memadati parkiran mall dengan mobil-mobil mereka, dan demikian juga jalanan kota Jakarta (dan juga jalanan kota Bandung) di saat weekend.

Luar biasa…

Lauching gadget dengan offering harga lebih murah berikutnya adalah launching Samsung Galaxy Note 10.1 inch tanggal 1 September 2012 yang akan datang di Grand Indo. Lagi-lagi, satu mall yang mewah di Jakarta ini akan diserbu ratusan mungkin ribuan penggila OS Android lansiran Google tersebut yang dijual 1 juta lebih murah dari harga sebenarnya. Well, kita lihat seberapa hebohnya gadget launch ini (mengingat blog ini baru dibuat tanggal 23 Agustus 2012).

Konsumen kelas menengah (beberapa teman saya menyebut konsumen kelas menengah sebagai sesuatu yang over rated, marketing gimmicks, yang sebenarnya ya juga biasa-biasa saja, nothing special). Well. I’m not gonna argue or making further talk about that. Karena disadari, motor penggerak ekonomi Jakarta (dan bahkan juga Indonesia) ya kelas menengah. Termasuk saya…

Mereka yang komplain kenapa jalanan Jakarta macet. Mereka yang bingung kenapa tiap tahun kemacetan di jakarta semakin menjadi-jadi. Mereka yang menjadikan tukang bakpao di pinggir jalan sebagai indikator kemacetan (it’s some kind of joke :D).Β Kalau ketemu dengan 2 tukang bakpao berarti macetnya biasa saja, 4 tukang bakpao berarti macetnya cukup parah, ketemu dengan lebih dari 6 tukang bakpao berarti macetnya Jakarta cukup ‘hard core’. Funny. Funnier thing is we’re laughing at ourself πŸ™‚

Karena ya mereka, kalangan menengah, yang terus menerus membeli mobil (nyicil), yang mencapai kurang lebih 600 ribu unit mobil hingga mid year 2012 ini saja. Pffiuhh… No wonder folks! Mau dibangun jalan susun bertingkat-tingkat juga bakalan tetap macet. Mereka yang disebut di twitter sebagai #kelasmenengahngehe πŸ™‚ Punya lawan #kelasatasrese

Konsumerisme ini membuat Indonesia menjadi sexy!

Merek-merek premium membanjiri mall, mall dibangun dimana-mana. Bukan hanya mall, namun mungkin super mall. Saya sempat agak ngeri saat melewati sepanjang Jalan Casablanca (jalan yang membentang memanjang dari pondok kopi sampai karet). Kurang lebih ada 3 mall besar. ITC-Mall Ambassador, Kuningan City, dan Kota Kasablanka. Dan menyusul, Ciputra World yang tak jauh dari ITC-Mall Ambassador. Sempat terpikir, mall sebanyak ini (yup, Jakarta adalah kota dengan mall terbanyak di dunia) koq ya padet saat weekend ya? Orang yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya ada berapa banyak sih sebenarnya?

Namun sebenarnya tidak semua padat. Karena seleksi alam, beberapa mall lama di Jakarta mulai sepi pengunjung. Blok M Plaza, Pasaraya Blok M, Mal Artha Gading, dan mungkin masih ada beberapa lagi. Dahulu, sebelum adanya Gandaria City, Senayan City, dan Blok M Square, Pasaraya Blok M menjadi salah satu mall kelas atas yang cukup keren. Sekarang, jadi seperti terlantar. Apalagi kalau anda turun ke bawah masuk ke Hero Supermarket-nya, akan merasa lebih sedih lagi. Beberapa rak sudah dikosongkan, tidak lagi menjual produk fresh-daging dan ikan, hanya beberapa buah sayur dan buah tergeletak layu. Island freezer-wall freezer untuk produk beku, es krim-nuggets-dsb pun tidak lagi dinyalakan. Seleksi alam…

Konsumerisme…

Oom Yuswohady ( @yuswohady ) menyebut gejala ini dengan #consumer3000 Sebuah gejala yang dimulai dengan naiknya pendapatan per kapita penduduk Indonesia sebesar US $ 3.000 yang hampir bisa disejajarkan dengan negara maju. Well, relatively. Ditambah dengan mudahnya mendapatkan pinjaman dari bank dalam bentuk kartu kredit. Kartu kredit.

Dengan kartu kredit ini, pola konsumsi masyarakat Indonesia juga berubah. Apapun dibeli dengan kartu kredit, beli cabe rawit pun dengan kartu kredit. Not exagerrating. Tapi kenyataannya grocery shopping-belanja kebutuhan sehari-hari pun dibayar dengan kartu kredit. Ngutang dulu, bayar belakangan. Atau ngutang dahulu, nyicil belakangan.

Provider kartu kredit pun banyak membuat consumer program untuk memacu nasabahnya agar semakin giat dan gencar ber-transaksi. Restaurant, cafe, warung makan pun tak mau kalah membuat program discount khusus untuk para kelas menengah tersebut.

Buat retailer, produsen consumer goods, penyedia jasa, pengusaha warung, resto, cafe di Indonesia, konsumerisme konsumen Indonesia yang tinggi jadi ride atau kendaraan yang sangat menarik (baca : sexy). Betapa tidak, mau dijual berapapun produknya, pasti dibeli koq… Apalagi ditambahi gimmick atau message yang mengena, walaupun kadang context mengalahkan content. Tapi apa daya, mereka yang punya power untuk menyajikan context yang menarik lah yang menang. Terlebih dengan produk/jasa yang dibeli-digunakan, konsumen seolah-olah terlihat keren. It’s the coolness of using the product. Seperti gengsi pengguna produk Apple yang seolah lebih tinggi dibanding pengguna Android. Seolah-olah beda kelas. Well, that’s the power of brand. You buy the brand, feel the brand, not the commodity.

Siapa yang rela menghabiskan belasan ribu sampai dengan puluhan ribu rupiah untuk sekantong keripik pedas asli Bandung bermerk Ma Icih ? (ada yang belum kenal dengan brand ini?) Kalau dihitung hanya komoditi saja, pasti harga sekantong keripik pedas tidak melebihi sepuluh ribu rupiah. Namun setelah ia dipacking khusus, dan dilabeli Ma Icih, dan dijual di pinggir-pinggir jalan oleh para jenderal-nya, konsumen rela menebusnya dengan harga tinggi. Biaya promosi Ma Icih tinggi? Nggak πŸ˜‰ Mostly lewat facebook dan twitter saja koq. Hebat bukan?

Pola pemasaran di Indonesia juga banyak dikendalikan dan dibantu oleh social media. Internet marketing.Β Bagaimana twitter tumbuh subur di Indonesia, hingga hampir semua brand membuka akun twitter dan fanpage di facebook bukan semata untuk promosi, namun juga untuk berkomunikasi dua arah secara egaliter dengan para konsumennya. A free media, they said.

Banyak promosi dan program diskon diketahui dan diteruskan oleh para konsumen dari dan melalui channel ini, jejaring informasi dan pertemanan. Such a powerful channel, but very affordable. But not exactly free.. The expertise is still expensive πŸ˜‰

Dengan konsumerisme di Indonesia, banyak pihak menjadi happy. Konsumen happy. Retailer happy. Businessman happy. Everybody happy since the wheel is keep on turning and turning. Roda perekonomian berjalan sangat cepat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s