Cerita Field Marketing (part.3)

 

Dua cerita yang lalu, tentang Field Marketing ini banyak banget mengisahkan tentang apa yang saya alami, jalani, pelajari, ikuti, ketahui, dan pahami selama menjadi ‘pawang’ SPG. Perfect years? No, I don’t think so. Hustle years? Yes, it is.

Seorang teman lama, yang mungkin ga sengaja baca BBM status saya, @haris_rahmanto baca juga blog ini, haryoprast.wordpress.com dan memberikan response positif. Lebih ke sisi penulis blog, yaitu saya sendiri 8) yang menurut beliau, ‘very passionate about his job’ Itu kata dia lho… Trully is, I can’t judge myself of it.

Ok, start typing…

Di dunia barat, Eropa atau Amerika misalnya, jarang sekali ada mbak-mbak SPG di lorong-lorong supermarket / hypermarket. Buat sebagian shopper disana, jika sedang belanja bertemu dengan para SPG, mereka dianggap mengganggu. Buat mereka, shopping is enjoying the process. Mampir ke salah satu lorong. Melihat seisi lorong dari ujung, dengan melihat apa yang ada di end gondola terlebih dahulu. Lalu melihat bagian per bagian dari rak yang ada. Dengan santainya, dan tanpa buru-buru. Well, behavior ini hanya berlaku untuk mereka yang ‘rich in time’

SPG Sariwangi, LSI Kalimalang

Melihat satu group SKU atau kategori, minyak goreng misalnya. Membanding-banding harga (melihat price tag tiap brand-size-pack dari minyak goreng yang didisplay), disinilah peran penting price tag dan segala informasi tentang harga yang harus terpasang dengan benar. Resiko? Fatal. Loss sales, brand switch, dan sebagainya.

Lorong susu di LSI Cirendeu

Lalu setelah melihat dari jauh, shopper mulai mendekat. Memegang kemasan satu demi satu. Membaca kandungan  tiap brand minyak goreng yang ada. mencari ada kandungan omega-3, dan sebagainya. Memegang, moment of truth. Disinilah dimana shopper berinteraksi dengan sebuah brand via produk yang dijualnya. Apa yang dipikirkan oleh shopper saat memegang produk minyak goreng itu. Either it’s in a pouch, bottle, or even in a mineral water plastic glass. Mungkin akan sedikit ilfill (ilang feeling) kalau produk yang dipegang berasa berminyak ditangan (mungkin gara-gara packaging minyak goreng lain bocor, dsb), sehingga harus buru-buru mencari tissue untuk melap tangannnya.

Island Freezer, Tip Top Pondok Bambu

Ini feature. Apa yang dapat dilihat-dirasa oleh shopper dari suatu produk tersebut. Apa yang tertulis di packaging produk, apa yang dirasa saat memegang packaging produk. Belum sampai pada manfaat atau keuntungan yang didapat oleh shopper setelah membeli produk minyak goreng merek A.

Gak tahu yah, tapi somehow… Buat saya, jika belanja di supermarket atau hypermarket yang cenderung sepi, dan labih bagus juga kalau sepi dari mBak-mBak SPG, saya jadi lebih enjoy dalam menikmati proses belanja. Bisa dorong trolley dengan nyaman dan santai dari lorong ke lorong, salah satu hobby istri saya juga, @vitadasilva99. Bisa browsing dengan bebas dari satu rak ke rak yang lain. Melihat price tag yang terpasang, dan kadang saling berkomentar… “Eh, kayaknya price tag-nya keliru deh, masa harga buat pack size A dipasang di pack size B ?” “Katanya lagi promo, koq harganya normal-normal saja sih?  Coba, tanya orang tokonya deh”

Beverage alley, Robinson Cinere (closed)

Dan kadang, saat belanja jika ada SPG di suatu lorong, akan buat saya, dan mungkin beberapa shopper lainnya, menghabiskan waktu lebih singkat dibandingkan di lorong yang tidak ada SPG-nya. Ga enakeun, kata orang Sunda. Kalau kita menolak tawaran mereka. Lebih ke alasan emosional. Yup! Indonesian mostly thinks this way.

Merasa ga enak kalau dikelilingi SPG yang siap menawarkan produk-brand-nya, merasa ga enak kalau harus menolak tawaran tiap SPG yang menawarkan dengan sopan. Kadang kalau berempati, kasihan juga dengan para SPG tersebut. Response dari shopper yang ketemu dengan mereka pasti bermacam-macam. Mulai dari penolakan sopan, tidak dianggap, dijahili, hingga penolakan keras. Dibentak. Ada? Pasti ada…

Bisa di Indonesia suatu supermarket/hypermarket jalan tanpa SPG ?

Saya rasa belum  bisa. Kenapa?

1.  Pihak supermarket masih merasa kalau dengan adanya kontribusi tenaga SPG-SPB dari para supplier, mereka bisa menghemat biaya tenaga kerja

2.  Supplier sendiri, baik dari FMCG (terutama yang produknya impulse – es krim, snack, permen, dsb) atau dari industri lain, masih merasa perlu memasang tenaga SPG di toko. Bukan hanya untuk meningkatkan selling out, namun juga sebagai good will kepada toko atau account (ini alasan yang paling tidak masuk akal)

3.  SPG masih dipandang sebagai bagian dari suatu service kepada konsumen. Get lost at stores, and no ‘store attandant’ to find ? Go to one of SPG to show you the way. Karena itu, salah satu retailer ‘menjual’ kaos polo ke suppliernya sebagai seragam untuk para SPG-SPB yang bertugas di toko-tokonya, agar terlihat SPG sebagai karyawan toko. Terlihat padat karya (wan/wati). Hmmm…

SPG ice cream at Carrefour MT Haryono

Mungkin nanti, ada suatu era dimana SPG atau SPB tidak dibutuhkan lagi sebagai persuader. Tapi lebih sebagai stock builder, stock refiller, person in charge in rack facing, etc. Hanya bertugas memajang, refill, stock update, dan sebagainya. Penjualnya siapa? Nah, ini akan kembali ke pemahaman awal tentang merchandising. Sesuatu yang saya pelajari dari awal bekerja disini. Kalau ‘product with good merchandising will sell itself” =) Make sense now…

Back to standard of 4Ps. Product-Placement-Price-Promotion. True marketers and trade marketers must fully understand of this 4P stuffs.

Dan shopper yang sudah terbiasa belanja di modern market akan dengan nyamannya melanggang di tiap – tiap lorong dan area. Melihat dari dekat suatu produk, baca komposisi produk yang ada, melihat price tags dan promotional signage,  membaca stores sign sebagai navigator mereka, dan toko akan dan bisa jadi menyediakan alat komunikasi (bisa telepon, intercomm, etc) untuk memanggil awak toko untuk bertanya, minta dibantu, dihampiri, dan sebagainya as their service. Bukan service yang selalu ada bahkan saat tidak dibutuhkan, tapi service yang ada real time, juat in time, saat dibutuhkan.

Someday, mungkin pasar modern trade di supermarket dan hypermarket akan menjadi beda… tanpa SPG. Namun diimbangi dengan pelayanan yang canggih. How? I don’t know for sure… Wait, let me see my crystal ball first, hehehehe… =)

See you on another chapter of Cerita Field marketing (part.4)

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s