Cerita Field Marketing (part.2)

Sambungan Cerita Field Marketing…

SPG LuVe Litee di C4 Cempaka Mas

Sales Promotion Girl – SPG, Sales Push Team, Brand Promoter, dan masih banyak julukan untuk tenaga penjual berjenis kelamin perempuan ini. Kenapa harus perempuan? Kenapa ga bahas Sales Promotion Boy saja?

Karena :

1.  Sebagian besar shoppers/consumers lebih suka dilayani-dipersuade-ditawari oleh perempuan…

2.  Perempuan punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh laki-laki, yaitu kelembutan. Baik di tutur kata, gaya bicara, dan gesture.

3.  Kerena perempuan itu cantik. Dan somehow, perempuan cantik yang pintar akan terlihat luar biasa 🙂

SPG Nutrifood at Giant Bekasi

Okay, let’s not now talking about gender. Kita tahu, bahwa di hampir lorong-area suatu supermarket atau hypermarket pasti ada ‘penjaga lorong’ yaitu SPG. Yang mungkin akan membuat kita ‘reluctant’ atau nggak enak. Takut ga enak kalau nolak penawaran mbak-mbak SPG itu, takut kalau kita terbujuk dengan sales talk mbak-mbak SPG tersebut… Jadi males lewat lorong yang banyak SPG-nya. Hahaha…mungkin itu salah satu shopper behaviour saat sedang ada di dalam supermarket/hypermarket.

SPG Joy Tea

Beberapa shopper mungkin berpikiran seperti diatas. Berpikir bahwa somehow, mbak-mbak SPG yang ada di toko bisa dengan mudah (karena dilatih sedemikian rupa) membuat seseorang yang berpikir ‘no – later on – ntar ajah’ dan sebagainya dan sebagainya bisa menjadi ‘yasudah, gw coba deh – ok, aku ambil satu yaaa… –  eemmmm, boleh deh kalo gitu – dan sebagainya.  Convertion rate dari tertarik pada suatu brand, via in store branding, packaging, display akan diperbesar dengan hadirnya SPG di lokasi. Buat mereka yang bekerja di industri FMCG pasti paham betul akan peran SPG. Terlebih jika produk yang dijual adalah produk impulsif. Yang hanya butuh ‘snap’ untuk membuat suatu keputusan pembelian. No such thing as planning to do some impulsive buying, right? 😉 It just happens.

SPG Hula Paradise at Tip Top Rawamangun

Yang paling saya ingin tahu sebenarnya adalah, berapa waktu yang sebenarnya dipunyai oleh seorang SPG untuk persuading shoppers. Mulai ucapkan salam pertama, menarik perhatian shoppers via senyum dan sales talk yang persuasif, hingga menunggu response dari shoppers. Berapa detik waktu rata-ratanya?

Sehingga kita, jika kita berperan di perusahaan sebagai penanggungjawab per-SPG-an bisa memperkirakan, butuh waktu berapa detik dari ucapkan salam pertama hingga menutup sales talk, menunggu response dari shoppers. Apakah tertarik atau tidak, apakah hanya sekedar memberikan senyum, atau malah mengacuhkan saja.

Sekedar pengamatan saja, tiap SPG yang melakukan persuasi mungkin butuh sekitar 5-7 detik untuk menarik perhatian shoppers dengan sales talk-nya. Tidak boleh terlalu panjang, karena pesan yang masuk ke shoppers akan banyak yang ter-reduksi, tidak sempat didengar secara utuh. Sehingga kalaupun tertarik, shoppers tersebut akan meminta pengulangan kata untuk memperjelas maksud SPG yang bersangkutan. Biasanya akan bertanya, “Gimana, mbak?” atau “Apa’an tadi, mbak?” nah, capek juga kalau ada SPG yang sudah mengucapkan sales talk panjang lebar, namun tidak terdengar dan terserap semuanya oleh shopper. Terlalu panjang.

Nah, apa jadinya kalau terlalu pendek. Mostly, shoppers akan kurang tertarik. Pernah jalan ke lorong baju-baju atau fashion di ITC-ITC? Kebanyakan SPG atau pramu toko menawarkan barang dagangannya dengan berkata :  “Boleh kakak…” atau “Silahkan kakak…” atau ” Masuk dulu kakak, lihat-lihat dulu…”

Sangat standard…

Kita tidak mau SPG-SPG kita mengucapkan sales talk yang se-standard itu bukan? Nggak mau dong…

Nah, bagaimana seharusnya sales talk dimulai? Mungkin begini (ini menurut saya lho) :

1. Opening – prefix : bisa salam-selamat pagi-apapun

2. Probing : setelah berhasil menarik perhatian si shoppers, maka SPG tersebut menggal apa yang dicari/dimau shopprs

3. Seal the deal : pada tahap ini, SPG sudah berhasil meyakinkan shoppers, tinggal ditawari ambil berapa pack/pcs/unit

4. Penutup – suffix : selain berucap terima kasih, as service people, SPG layaknya customer service suatu industri bank atau telco, wajib menawarkan bantuan lagi, dengan kata-kata : “Terima kasih bu, ada lagi yang bisa saya bantu?”

That’s suffix. Kata-kata yang jarang diucapkan SPG-SPG baik di stores manakala shoppers sudah mau memindakan produk yang ia tawarkan ke dalam keranjang/trolley belanjaannya.

 

Nah, sampai disini dulu Cerita Field Marketing (part.2), akan disambung ke part 3 yah… Very soon 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s