Trade Marketing, how do I get there (part 3)

…………………………….. previous part can be seen on previous blog πŸ™‚

Toko atau retailer juga berbenah. Lay out dirubah, mengarah ke user friendliness, mempermudah menemukan SKU yang dicari oleh shoppers, menciptakan flow sedemikian rupa, menemukan hot spots – dead spots untuk display product yang nantinya bisa dijual kepada supplier untuk in store branding dan rental space, jarak antar rak diperlebar, ditata ulang agar saat toko ramai, kenyamanan shoppers tidak berkurang, dan sebagainya.

At some point, modern trade menemukan titik kejenuhannya.

Well, it’s part 2.

Road to know Trade Marketing, for me.

–> Bagian diatas adalah penggalan dari part 2 πŸ™‚

Battle at POP

Now, we’re going to 3rd part of How Do I get There, as a Trade Marketing person πŸ™‚

It’s all related with the last paragraph. Modern trade menemukan titik kejenuhannya.

Terutama supermarket dan hypermarket. Jumlah toko yang terus tumbuh, terutama si hypermarket, dengan Carrefour-Giant-Hypermart, dan contender baru Lotte Mart, tidak signifikan terhadap pertumbuhan organik toko. Growth per toko. Karena masing-masing account berniat saling ‘bunuh’.

Jika ada 1 hypermarket yang sukes di suatu tempat, maka tak lama kemudian akan tubuh beberapa toko lainnya, di sekitarnya. Ini belum termasuk minimarket yang tumbuh bagiakan jamur di musim hujan, di depan perumahan, depan gang suatu pemukiman, di apartemen (biasanya Starmart-Hero Group), perkantoran, dan tiap pinggir jalan strategis.

Minimarket juga ikut membunuh hypermarket dan supermarket. Why? Karena untuk daily-non planned grocery shopping, mereka cenderung akan belanja di minimarket. Regardless harga yang cenderung lebih mahal. Kalau ibu-ibu yang sangat selektif dan price sensitive pasti lebih tahu belanja dimana yang lebih murah.

Well, back to supermarket and hypermarket wars.

Masing-masing toko ingin terlihat menarik. Dari depan toko sampai bagian belakang toko, fresh division. Suasana toko dibuat sedemikian nyamannya, sehingga shoppers berniat menghabiskan waktunya untuk belanja lebih lama, belanja lebih banyak (harapan retailer, dan juga supplier). Pandangan shoppers dibuat sangat enak, dengan adanya dress up dimana-mana.

Mulai dari lorong susu, air mineral-sirup, susu bayi, makanan bayi, permen-snack, island freezer, bunker freezer, area buah, sampai pillar-pillar di spot manapun ikut digarap menjadi lebih cantik. It’s called branding. In store branding. Dressing up. Mempercantik. Beautify. Dengan semakin bagus dan keren-kerennya tiap spot di supermarket dan hypermarket, maka diharapkan gairah shoppers untuk belanja lebih banyak akan dapat ditingkatkan. Korelatif ga?

Jawabannya, iya. Koq?

Iya. Karena tiap Trade Marketers yang jalan ke HO account untuk present ide-ide co-brandingnya pasti akan mengharapkan bukan hanya branding-awareness-dll naik, tapi convertion rate juga naik.

Convertion rate yang dimaksudkan disini adalah seberapa besar daya tarik in store branding tersebut untuk menciptakan interest shoppers untuk membeli. Contoh : “Wah, warna pillarnya jadi bagus banget ya? Jadi biru… Oooo, keju Kr*ft yah? Ehmmm, boleh deh beli 1. Coba rasa barunya aja” Nah, itu adalah contoh convertion rate.

Belum lagi kalau in store dress up-nya bisa interaktif. efeknya lebih dahsyat lagi πŸ™‚ Ada tombol khusus yang kalau dipencet bisa memutar mp3 jingle iklan produk tersebut atau kalau lewat maka sensor akan membaca gerakan tersebut dan bunyilah POS materials tersebut… Β Mungkin akan lebih meicu shoppers untuk grab more, or just grab, than ungrab :p

The point is, tiap toko saling bersaing untuk :

1. tampil lebih menarik, di dalam dan diluar toko

2. menawarkan harga lebih kompetitif

3. memberikan kenyamanan berbelanja

4. menjual yang segar, fresh, good quality

Tujuannya adalah aga para shoppers, yang kemungkinan tinggal di sekitar toko tersebut, akan datang berbelanja ke toko tersebut. Bukan belanja ke toko sebelah.

Segala effort ini dilakukan toko, dibawah kendali HO-nya masing-masing tentunya, untuk tetap eksis. Tetap punya daya saing, tetap produktif, tetap ramai.

Why? Karena jumlah supermarket dan hypermarket sudah terlalu banyak. Apalagi di Jakarta atau area Jabodetabek. Crowded.

Saya suka mengamati toko, shoppers, SPG, para staff toko, manajer2 toko, display, dress up, traffic flow. Segalanya yang ada di toko. Yang unik. Mungkin hobi mengamati isi toko itukah yang membuat saya tertarik, dan ditugaskan untuk bekerja sekaligus mempelajari Trade Marketing secara lebih mendalam.

It’s all shopper oriented. Consumers oriented. Listen to what they want. Not telling them what your brand want. The era is already changed. They pick HOW-WHEN-WHERE they want to see your brand.

Social media adalah tools Β yang sangat luar biasa. Powerful. Connect. Touch and be touched. Secara egaliter.

 

Ehm, mungkin cukup bahasan How do I get there, at Trade Marketing world. Next topic is about a supermarket.

Local supermarket, as we used to call them IKA (independent key account). Saya akan nulis salah satu account yang saya anggap menarik. Sangat menarik. Hint is : group lokal supermarket yang punya shoppers yang loyal.

πŸ™‚

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s